Human Philosophical Reflections 2: Knowledge, Intelligence, Affection & Freedom
March 31, 2014
I. Knowledge
Pengetahuan tidak dapat dijangkau oleh pandangan atau tangan manusia. Pengetahuan manusia sifatnya kompleks, sulit dijangkau secara lengkap dan utuh oleh budi manusia yang terbatas.
Pengetahuan itu disebut:
- Indrawi lahir: pengetahuan dicapai secara langsung oleh seseorang melalui kelima indranya seperti penglihatan, pendengaran, pembau, perasaan atau peraba.
- Indrawi batin: pengetahuan dicapai secara tidak langsung oleh seseorang melalui ingatan dan khayalan mengenai apa yang tidak ada lagi, yang belum pernah ada ataupun yang diluar jangkauannya.
- Perseptif: pengetahuan yang muncul secara spontan seperti lewat gerakan atau sikap/tindakan yang memungkinkan seseorang untuk menyesuaikan dirinya dengan situasi yang ada.
- Refleksif: pengetahuan membuat objektif kodrat dari suatu realitas apa pun juga. Pengungkapannya bisa dalam bentuk ide, konsep, definisi, lambang/simbol, mitos atau karya-karya seni.
- Diskursif: pengetahuan yang muncul dari sebab ke akibat dan dari akibat ke sebab, dari prinsip ke konsekuensi atau dari konsekuensi ke prinsip. Pengetahuan ini memperhatikan suatu aspek dari benda lalu ke aspek yang lainnya.
- Intuitif: pengetahuan menangkap secara langsung objek atau situasi dalam salah satu aspeknya seperti sebab dalam akibat, konsekuensi dalam prinsip.
- Induktif: pengetahuan yang mencakup hal-hal khusus ke umum.
- Deduktif: pengetahuan yang mencakup hal-hal umum ke khusus.
- Kontemplatif: pengetahuan yang mempertimbangkan benda-benda dalam dirinya dan untuk dirinya sendiri.
- Spekulatif: pengetahuan yang mempertimbangkan benda-benda dalam bayangan dan ide atau konsep tentang benda itu sendiri.
- Praktis: pengetahuan yang mempertimbangkan benda-benda menurut bagaimana mereka dapat digunakan.
- Sinergis: pengetahuan yang merupakan akumulasi dari seluruh daya kemampuan dari subyek.
Pengetahuan menjadi sangat kompleks dan beraneka raga dalam konteks sifat dan bentuknya. Segalanya berbeda sekali satu sama lainnya. Tetapi tidak baik apabila pengetahuan manusia terlalu kaya atau kompleks apabila salah satu cara/bentuknya terlalu ditekankan sehingga dapat merugikan yang lain.
Pengetahuan sifatnya menyerupai kesadaran tetapi tidak ada penyesuaian yang sempurna diantara keduanya. Pengetahuan adalah kegiatan yang menjadikan suatu realitas yang kurang lebih dinyatakan. Sedangkan kesadarannya adalah kegiatan yang bersamaan waktu subyek mengetahui suatu realitas, subyek mengenal dirinya yang sedang mengetahui realitas tersebut.
II. Intelligence
Berasal dari kata intellectus dan intellegere (Latin). Kata intellegere terdiri dari kata intus (pikiran/akal) dan legere (membaca/menangkap). Secara keseluruhan, intellegere berarti membaca segala hal dalam pikiran atau akal dan menangkap artinya yang dalam.
Inteligensi: aktivitas dari suatu organisme dalam menyesuaikan diri dengan situasi dengan menggunakan persepsi, ingatan, konseptual, abstraksi, imanjinasi, atensi, dan konsentrasi. Dapat juga diartikan sebagai proses pemecahan masalah-masalah dengan pemikiran yang abstrak.
Bentuk kegiatan intelektif manusia berasal dari tahap yang paling rendah sampai ke tahap yang paling tinggi atau kompleks. Pengetahuan berjalan dari tahap intelegensi yang tidak sadar sampai kepada tahap yang sadar yang menempatkannya secara sistematis dan reflektif.
- Pengetahuan intelektif yang paling rendah adalah penglihatan atau penanggapan/persepsi. Hal ini digerakkan secara tidak sadar atau spontan.
- Pengetahuan yang muncul secara tiba-tiba tanpa kesadaran misalnya ketika sedang melamun.
- Pengetahuan intelektif aprehensi (penampakan) sudah memiliki kesadaran meskipun subjek menerima apa yang terjadi pada dirinya secara pasif dan tidak diinginkannya.
- Pengetahuan intelektif insight adalah penangkapan intelektual secara mendadak mengenai suatu objek. Manusia bersifat pasif dalam tahap intelegensi ini, tetapi berusaha untuk memahami makna dari peristiwa tersebut.
- Pengetahuan intelektif yang semakin kompleks lagi adalah diskursif atau penalaran. Kegiatan bernalar mengutamakan pada budi intelektif itu sendiri dan diterangkan secara logis dan ilmiah.
- Pengetahuan intelektif yang lebih tinggi adalah tahap pengambilan keputusan akan keyakinan atau kebenaran/kesalahan dari hasil penyelidikan tertentu. Keputusan sifatnya reflektif karena ada landasan yang dapat dipertanggung jawabkan. Dan keputusan juga bersifat pasti karena pengambil keputusan sadar bahwa dia tahu dan paham.
III. Affection
Manusia trias-dinamika: cipta (kognisi), karsa (konasi) dan rasa (afeksi).
Afeksivitas berperan untuk menggerakkan hati manusia, keinginannya, perasaannya atau ketertarikannya untuk mengamati, mempelajari, dan mengembangkan hal-hal aktual di sekitarnya menjadi bagian dari keberadaannya.
Afeksivitas berbeda dengan pengetahuan tetapi merupakan penyebab dan akibat dari proses pengetahuan manusia dalam penerapannya. Kelompok positivis memandang bahwa afektivitas sifatnya nonkognitif karena perihal indrawi tidak dapat memberikan penegasan epistemologis yang berkesesuaian terhadapnya. Pengetahuan tertentu mungkin bisa tercapai dengan perasaan. Pengetahuan eksistensial mempunyai sifat kepastian bebas dan kepercayaan bahwa kebebasan manusia tidak pernah hilang dari penegasan intelektual mengenai adanya afektivitas dalam alam pengetahuannya. Cinta (afektivitas positif) dan benci (afektivitas negatif) dapat menjadi dasar penentuan tindakan kognitif. Pengalaman-pengalaman afektivitas menjadi syarat untuk menentukan dalam proses intelegensi manusia.
Afektivitas adalah satu dari unsur-unsur pokok dasar keberadaan manusia di dunia, dan satu dari dimensi-dimensi esensial roh manusia. Perbuatan afektif harus dimengerti sebagai segala kegiatan batin yang karenanya subjek ditarik atau ditolak.
Kondisi-kondisi manusia untuk mencapai afektivitas diantaranya adalah:
Louis Leahy membagi ada 3 macam bentuk kebebasan:
Afektivitas adalah satu dari unsur-unsur pokok dasar keberadaan manusia di dunia, dan satu dari dimensi-dimensi esensial roh manusia. Perbuatan afektif harus dimengerti sebagai segala kegiatan batin yang karenanya subjek ditarik atau ditolak.
Kondisi-kondisi manusia untuk mencapai afektivitas diantaranya adalah:
- Ada ikatan kesamaan atau kesatuan antara subjek dan objek agar dapat terbentuk afektivitas.
- Objek yang dipandang mempunyai nilai (baik/buruk) maka subjeknya akan menghasilkan kegiatan afektif karena afektivitas itu berdasar pada kecintaan akan sesuatu maka subjek pada akhirnya akan menghasilkan atau menolak kegiatan afektif.
- Dalam melakukan sebuah afektif, subjek harus ditunjang dengan sebuah sifat dasar dan kecenderungan kognitif yang mendorong dia untuk lebih cenderung, selera, berkeinginan akan sesuatu yang pada akhirnya akan menciptakan kegiatan afektif.
- Mengenal adalah kausa dari afektivitas. Subjek harus bisa mendefinisikan objek yang akan dikenalinya dan pada akhirnya akan tercipta sebuah keputusan afektif apakah dia harus menyerang, mencintai, mempertahankan diri.
- Imajinasi dapat menjadi pendorong, penyemangat, mempengaruhi atau membohongi dalam menimbulkan kegiatan afektif.
IV. Freedom
Apabila manusia dapat merealisasikan dirinya secara penus, maka dia bebas. Kebebasan bersifat rapuh dan sensitif. Manusia adalah makhluk yang bebas, dan manusia adalah makhluk yang harus senantiasa memperjuangkan kebebasannya.
Pada jaman penjajahan, kebebasan diartikan sebagai keadaan terlepas dari penindasan penjajah. Sedangkan, pada jaman sekarang kebebasan tidak hanya sekedar terbebas dari keadaan terjajah, namun lebih berarti bebas untuk mengaktualkan diri di tengah-tengah perkembangan jaman ini.
Manusia disebut bebas apabila dia sungguh-sungguh mengambil inisiatif dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Kebebasan berkaitan erat dengan kemampuan internal definitif penentuan diri, pengendalian diri, pengaturan dan pengarahan diri.
Manusia disebut bebas apabila dia sungguh-sungguh mengambil inisiatif dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Kebebasan berkaitan erat dengan kemampuan internal definitif penentuan diri, pengendalian diri, pengaturan dan pengarahan diri.
"Freedom is self-determination" : kebebasan merupakan sifat/perbuatan yang hanya terdapat dalam manusia, bukan pada hewan atau benda. Manusia berkemampuan untuk berhasrat dan berkeinginan. Manusia mempunyai kehendak yang bebas dan kemampuan memilih. Kebebasan sejati hanya terdapat dalam diri seorang manusia karena adanya akal budi dan kehendak bebas. Kebebasan sebagai penentu diri mengandalkan peran akal budi dan kehendak bebas manusia.
- Kebebasan fisik: tidak ada halangan atau rintangan eksternal yang bersifat fisik/material. Manusia tidak dicegah secara fisik untuk berbuat sesuai dengan kehendaknya.
- Kebebasan moral: keadaan ketika seseorang tidak berada dibawah tekanan sebuah larangan atau kewajiban. Kebebasan ini dapat dibatasi dengan pemberian larangan atau kewajiban secara moral. Kebebasan moral mengandalkan kebebasan psikologis tetapi tidak sebaliknya.
- Kebebasan psikologis: keadaan ketika seseorang mempunyai kemampuan untuk mengarahkan hidupnya dan kebebasan untuk memilih berbagai alternatif. Kebebasan memilih ini biasa disebut kebebasan untuk mengambil keputusan berbuat atau tidak berbuat.
Reflection:
- Jenis pengetahuan yang sering diterima adalah pengetahuan indrawi lahir. Misalnya, ketika saya sedang mengikuti pembelajaran, saya menerima pengetahuan dengan indra penglihatan dan pendengaran.
- Berdasarkan pengalaman, saya sudah pernah mencapai tahap intelektif yang tinggi yaitu pengambilan keputusan. Sebelum duduk di perkuliahan, saya harus mengambil keputusan besar yaitu memilih jurusan yang tepat yang nanti akan mengarahkan saya dimana saya akan bekerja. Saya harus bertanggung jawab dengan keputusan saya tersebut dan menjalaninya sampai studi saya selesai.
- Dalam masyarakat Indonesia, kebebasan masyarakat belum terlihat nyata. Karena sebagai contoh, masih banyak umat beragama yang tidak diberikan kebebasan melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan mereka karena umat agama lainnya tidak bisa menghargai dan menghormati mereka. Padahal, negara kita ini merupakan negara yang memberikan kebeasan untuk memeluk agama dan mengakui lima agama, bukan hanya satu.
References:
- Leahy, Louis. (2001). SIAPAKAH MANUSIA? Sintesis Filosofis Tentang Manusia. Yogyakarta: Kanisius.
- Disaring dari Self-Determination di http://www.informationphilosopher.com/freedom/self-determination.html (31/03/2014).
comments |
3 comments
