Jiwa Manusia
March 25, 2014
Dibawah ini adalah lanjutan artikel "Jiwa Manusia" dari blog teman saya.
Ajaran mengenai komposisi hylemorphik jiwa manusia memudahkan pembuktian
mengenai kebakaan jiwa, sebab Bonaventura tidak mengkaitkan jiwa sedemikian
erat dengan badan seperti di dalam ajaran Aristoteles. Meskipun demikian, bukti
utama yang menjadi kesayangannya adalah bukti yang ditarik dari pertimbangan
mengenai tujuan utama jiwa. Jiwa mencari kebijaksanaan sempurna. Tetapi tidak
ada seorang pun yang berbahagia secara sempurna kalau ia takut akan kehilangan
apa yang dimilikinya: sebaliknya, ketakutan inilah yang membuatnya sengsara.
Maka, karena jiwa mempunyai keinginan akan kebahagiaan yang sempurna, jiwa itu
pastilah secara kodrati tidak dapat mati. Pembuktian ini mengandaikan
eksistensi Allah dan kemungkinan untuk mencapai kebahagiaan sempurna, seperti
eksistensi dari suatu keinginan kodrati akan kebahagiaan manusia. Bukti ini
menjadi kesayangan Bonaventura karena sifatnya yang rohani, karena hubungannya
dengan gerakan jiwa menuju Allah. Bagi Bonaventura ini merupakan bukti utama
(ratio principalis).
Dengan cara yang agak serupa, Bonaventura berargumentasi bertolak dari
pertimbangan sebab formal, dari kodrat jiwa sebagai imago Dai. Karena jiwa
telah diciptakan untuk mencapai kebahagiaan, yaitu pemilikan Kebaikan
tertinggi, Allah sendiri, jiwa harus mempunyai kemampuan untuk memiliki Allah
(capax Dei). Maka jiwa harus menjadi gambar Allah dan mirip denganNya. Tetapi Allah
bersifat abadi, maka jiwa harus tidak dapat mati.
Bonaventura juga memberi bukti-bukti lain, misalnya bukti berdasar
keniscayaan sangsi-sangsi setelah kematian dan berdasar pada ketidakmungkinan
bahwa Allah menyebabkan kebaikan menjadi sia-sia. Kalau kebaikan itu sia-sia,
hal ini tentulah bertentangan dengan keadilan ilahi.
Ajaran Averroes mengatakan bahwa intelek (baik aktif maupun pasif) yang baka bukanlah intelek dari masing-masing individual, bukan bagian dari fakultas manusia individual, tetapi merupakan intelegens kosmis. Menurut Bonaventura ajaran Averroes ini tidak hanya bidaah dan bertentangan dengan agama Kristen, tetapi juga bertentangan dengan akal dan pengalaman. Bertentangan dengan akal, karena jelaslah bahwa jiwa intelektual merupakan kesempurnaan manusia sebagai manusia, dan manusia berbeda satu dari lainnya, masing-masing adalah pribadi individual. Juga bertentangan dengan pengalaman, karena jelas dari pengalaman bahwa setiap orang mempunyai pikiran yang berbeda-beda.
Dalam kaitan dengan isi pengetahuan jiwa mengenai objek-objek inderawi, Bonaventura setuju dengan Aristoteles bahwa pengetahuan ini tergantung dari persepsi inderawi. Intelek manusia diciptakan dalam keadaan 'telanjang' dan tergantung kepada indera dan imaginasi. Jiwa, dalam hubungan dengan pengetahuan, aslinya adalah tabula rasa, dan tidak ada tempat bagi ide-ide bawaan.
Ajaran Averroes mengatakan bahwa intelek (baik aktif maupun pasif) yang baka bukanlah intelek dari masing-masing individual, bukan bagian dari fakultas manusia individual, tetapi merupakan intelegens kosmis. Menurut Bonaventura ajaran Averroes ini tidak hanya bidaah dan bertentangan dengan agama Kristen, tetapi juga bertentangan dengan akal dan pengalaman. Bertentangan dengan akal, karena jelaslah bahwa jiwa intelektual merupakan kesempurnaan manusia sebagai manusia, dan manusia berbeda satu dari lainnya, masing-masing adalah pribadi individual. Juga bertentangan dengan pengalaman, karena jelas dari pengalaman bahwa setiap orang mempunyai pikiran yang berbeda-beda.
Dalam kaitan dengan isi pengetahuan jiwa mengenai objek-objek inderawi, Bonaventura setuju dengan Aristoteles bahwa pengetahuan ini tergantung dari persepsi inderawi. Intelek manusia diciptakan dalam keadaan 'telanjang' dan tergantung kepada indera dan imaginasi. Jiwa, dalam hubungan dengan pengetahuan, aslinya adalah tabula rasa, dan tidak ada tempat bagi ide-ide bawaan.
Tetapi meskipun kita tidak mempunyai pengetahuan bawaan mengenai
objek-objek inderawi atau mengenai esensi mereka, atau mengenai prinsip-prinsip
pertama, logis atau pun matematik, tidak berarti bahwa pengetahuan kita
mengenai kenyataan-kenyataan spiritual diperoleh melalui persepsi inderawi. “Allah
tidak diketahui dengan menarik suatu kemiripan dari indera”, tetapi oleh
refleksi jiwa atas dirinya sendiri. Jika tidak mempunyai visi intuitif mengenai
Allah, atau mengenai Esensi ilahi, di dalam hidup ini, tetapi jiwa sendiri
diciptakan di dalam gambar Allah dan diserahkan kepada Allah di dalam keinginan
dan kehendak. Maka refleksi akan kodratnya sendiri dan akan keterarahan
kehendak memudahkan jiwa untuk membentuk ide mengenai Allah tanpa perlu lari ke
dunia inderawi yang di luarnya. Dalam batas pengertian ini, ide akan Allah
merupakan ‘bawaan’, meskipun tidak dalam arti bahwa setiap manusia mempunyai
suatu pengetahuan akan Allah yang jelas, eksplisit, dan tepat sejak
permulaan. Demikian juga halnya dengan pengetahuan mengenai
keutamaan-keutamaan, yang harus merupakan ‘bawaan’ dalam pengertian tidak
ditarik dari persepsi inderawi.
Namun budi manusia bisa berubah, ragu-ragu, salah, sementara
fenomen-fenomen yang kita alami dan ketahui juga berubah-ubah. Sebaliknya,
jelaslah bahwa jiwa manusia mempunyai kepastian-kepastian serta sadar akan
kemampuannya untuk mengetahui kepastian-kepastian itu serta mengetahui
asensi-asensi serta prinsip-prinsip yang tidak berubah. Namun, yang tidak
berubah hanyalah Allah. Maka, semua ini berarti bahwa budi manusia dibantu oleh
Allah dan bahwa objek dari pengetahuan yang pasti tentulah ditemukan oleh Allah
dengan cara tertentu, karena objek itu berada di dalam Allah sebagai ide-ide
ilahi. Ide-ide ilahi itu haruslah mempunyai tindakan langsung yang mengatur
budi manusia, meskipun mereka mandiri tidak kelihatan. Ide-ide itulah yang
menggerakkan dan mengatur budi dalam pertimbangan-pertimbangan tertentu
sehingga budi mampu mengarti kebenaran-kebenaran tertentu dan abadi di dalam
tata spekulatif dan moral dan membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu dan
benar bahkan mengenai objek-objek inderawi. Tindakan langsung dari ide-ide
ilahi (illuminatio) ini perlu agar budi bisa melihat di dalam objek cerminan
dari ide yang tak berubah dan dapat membuat pertimbangan yang benar mengenai
objek itu.
Langkah-langkah gerak naik jiwa lebih dikaitkan dengan teologi asketis dan
mistik daripada dengan filsafat dalam pengeritan Bonaventura. Langkah-langkah
ini sesuai dengan potensialitas-potensialitas di dalam jiwa dan menuntunnya
dari alam kodrat ke alam rahmat. Mulai dengan daya-daya inderawi dari jiwa
Bonaventura menunjukkan bagaimana jiwa dapat melihat vestigia Dei
(bekas-bekas/tapak-tapak Allah) di dalam benda-benda berjasad, bila jiwa
merenungkan benda-benda itu terutama sebagai buah karya Allah, kemudian sebagai
benda di mana Allah hadir, dan Allah menyertainya sewaktu jiwa mengundurkan
diri dari dunia materiil ke dalam dirinya sendiri dan merenungkan susunan dan
daya-daya kodratinya sendiri sebagai gambar Allah. Budi, berkat Sabda Allah, kemudian
merenungkan Allah di dalam fakultas-fakultas jiwa yang telah diperbarui dan
diangkat oleh rahmat.
Namun, di dalam tingkat ini, jiwa masih merenungkan Allah di dalam
gambarNya, yaitu jiwa sendiri meskipun telah diangkat oleh rahmat.
Kesimpulan:
Tujuan utama dari jiwa manusia adalan mencari kebijaksanaan dan kebahagiaan sempurna. Dan untuk mencapai hal tersebut, seseorang harus membangun relasi dengan Allah karena Allah merupakan kebaikan tertinggi. Jiwa itu sifatnya harus tidak dapat mati dan mempunyai kepastian-kepastian dan kesadaran. Sedangkan, pengetahuan ditemukan dari fenomena atau ide-ide ilahi. Ide-ide ilahi tersebut dapat mengatur tindakan langsung yang mengatur budi manusia.
References:
Dikutip dari buku Filsafat Patristik, halaman 37-38.
comments |
4 comments

